Desa Banjarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, memiliki potensi ekonomi yang signifikan dalam bidang pertanian, makanan olahan, dan kerajinan tangan. Namun, keterbatasan infrastruktur digital dan rendahnya literasi digital menghambat pelaku usaha desa dalam memasarkan produk mereka secara lebih luas. Kesempatan ekonomi digital yang berkembang pesat di kawasan perkotaan belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat desa, menciptakan kesenjangan ekonomi yang semakin melebar. Oleh karena itu, diperlukan solusi inovatif yang dapat memperkuat konektivitas antara pelaku usaha di desa dan industri di perkotaan guna memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk desa.
Sebagai solusi, program pengabdian masyarakat ini mengusulkan perancangan Virtual Tour 360 yang dirancang untuk mempromosikan serta meningkatkan awareness kepada Masyarakat luas terkait pelaku usaha desa dengan industri besar di sektor manufaktur, retail, serta perhotelan dan pariwisata. Virtual Tour 360 ini dapat menjangkau beberapa Lokasi-lokasi strategis dan potensial untuk dipromosikan dan diperkenalkan pada Masyarakat luas. Dengan implementasi sistematis dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, inisiatif ini bertujuan untuk memperkecil jarak kesenjangan ekonomi antara desa dan kota serta mendorong transformasi digital bagi UMKM di wilayah pedesaan. Untuk pengabdian masyarakat saat ini berfokus pada pengelolaan sampah melalui magot.
Salah satu pengelolaan ekonomi dan produk yang berkembang adalah pengelolaan sampah yang baik, sehingga sesuai kebutuhan mitra kali ini berfokus pada virtual tour 360 di ruang kantor dan tempat pengelolaan sampahnya. Virtual Tour 360 dapat dimanfaatkan sebagai media promosi pariwisata berbasis komunitas. Desa Banjarsari yang memiliki keunikan dalam bidang kerajinan tangan dan makanan olahan dapat menarik wisatawan dan investor melalui pengalaman virtual yang interaktif dan menarik. Dengan adanya Virtual Tour 360, produk-produk lokal dapat lebih mudah diakses oleh calon konsumen dari berbagai daerah, baik nasional maupun internasional. Hal ini dapat meningkatkan omset pelaku usaha serta memperkuat posisi produk desa di pasar digital.

Gambar 4.1 Internal Meeting Abdimas
Kegiatan diawali dengan melakukan kordinasi meeting internal tim abdimas untuk merencanakan keberangkatan dan aktivitas yang dilakukan di Desa Banjarsari. Dalam kordinasi yang telah dilakukan, aktivitas abdimas pertama adalah kordinasi dengan pihak terkait di Desa Banjarsari yang dilakukan pada:
Hari, tanggal : Kamis, 21 Juni 2025
Waktu : 09.00 – 13.00
Tempat : Kantor Desa Banjarsari

Gambar 4.2 Kordinasi Abdimas di Desa Banjarsari
Pada tahap awal, telah dilakukan kegiatan pengenalan terhadap ruang lingkup serta potensi yang dimiliki Desa Banjarsari, yang diselenggarakan di kantor desa setempat. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Desa, Bapak Edi, beserta jajaran perangkat desa lainnya sebagai bentuk dukungan dan komitmen penuh dari pihak pemerintah desa terhadap program yang direncanakan. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan informasi mengenai potensi UMKM lokal, karakteristik masyarakat desa, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam memasarkan produk secara digital. Diskusi yang berlangsung secara interaktif juga memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM dan perangkat desa untuk menyampaikan harapan serta kebutuhan mereka. Kegiatan ini menjadi landasan penting agar semua pihak memperoleh pemahaman yang selaras dan memiliki komitmen bersama dalam mendukung keberhasilan program pemanfaatan media sosial untuk keperluan branding dan promosi UMKM desa.

Gambar 4.3 Survei Lokasi Virtual Tour di Desa Banjarsari
Dalam diskusi yang berlangsung, muncul gagasan untuk merancang sebuah virtual tour 360° yang menampilkan area pengelolaan limbah sampah di Desa Banjarsari, serta mendokumentasikan seluruh proses pengolahan mulai dari sampah masuk hingga tahap akhir. Virtual tour ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara pengelolaan sampah yang benar, sehingga diharapkan ke depannya masyarakat lebih bijak dan bertanggung jawab dalam membuang dan mengelola sampah.
Pada bulan Agustus direncanakan dengan tahap perekaman video & foto 360 yang berfokus pada objek pengumpulan, pengeolaan dan pemanfaatan sampah. Perancangan ini akan dilakukan melalui sesi konsultasi rutin, baik secara individu maupun kelompok, untuk mengatasi kendala teknis maupun konseptual dalam proses produksi virtual tour. Tim abdimas akan memberikan mengambil gambar, penyusunan alur narasi visual, serta penggunaan perangkat lunak dan teknologi yang mendukung pembuatan virtual tour. Pemerintah desa juga dapat memberikan dukungan, terutama dalam penyediaan infrastruktur seperti talent, mengarahkan arah narasi video dan lain sebagainya.
Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mengedukasi masyarakat, khususnya masyarakat, pelaku UMKM atau pengelola destinasi lokal, agar selain mendapatkan edikasi juga dapat mengelola virtual tour secara mandiri sebagai sarana edukasi, promosi, dan pelestarian informasi pengelolaan limbah sampah lokal. Kegiatan bulan Agustus akan diawali dengan pengambilan video dan gambar 360. Selanjutnya, akan dirancang kedalam software 360. Setelah itu akan dilakukan transfer ilmu pengelolaan virtual tour 360. Pengumpulan masukan (feedback) dari pihak terkait terutama di Desa Banjarsari juga akan dilakukan guna menyempurnakan materi virtual tour, sehingga program benar-benar selaras dengan kebutuhan aktual warga Desa Banjarsari. Dengan pendekatan sistematis ini, diharapkan pengembangan virtual tour 360° dapat menjadi media efektif dalam pengelolaan limbah sampah.
Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada tanggal 13 Agustus 2025 di kawasan Kantor Binaan, Desa Banjarsari. Fokus kegiatan ini adalah pengenalan teknik pengambilan gambar dan video 360°. Tim pelaksana terdiri atas dua orang mahasiswa yang didampingi oleh seorang dosen. Adapun pembimbing lapangan sekaligus perwakilan pihak pengelola adalah Bapak Rudi. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung pada pukul 12.00 hingga 14.00 WIB.
Awal mula kegiatan, tim disambut dengan bapak Rudi yang memperkenalkan ruang lingkup pengelolaan sampah organic dan non-organik yang ada dikawasan tersebut. Sebagian besar, hasil sampah ini dimanfaatkan untuk makanan maggot (larva) dari lalat yang nantinya dikelola menjadi pakan ternak dan pupuk. Tidak heran jika berkunjung ke tempat tersebut di halaman depannya akan disuguhkan tempat peternakan seperti peternakan ikan

Gambar 4.4. 5 Sektor lokasi sebagai tempat penangkapan gambar 360o
Lele dan peternakan Ayam. Sedangkan didalamnya terdapat pengelolaan tempat sampah dan pemberdayaan Maggot seperti yang ditampilkan pada gambar 4.4.
Terdapat 5 sektor lokasi yang akan diambil untuk perekaman foto dan video 360o yaitu diantaranya tempat pengumpulan sampah (organic dan non-organic), tempat pemilahan sampah, tempat pemberdayaan maggot, tempat budidaya ternak ikan Lele, dan tempat budidaya ternak ayam. Pengambilan gambar tersebut dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan penempatan yang pas (posisi kamera berada di center (pusat) tiap tempat). Selain itu, posisi seseorang diusahakan menghindar dari depan kamera agar tidak mengganggu pengambilan foto.
Penyampaian Ilmu terkait kamera 360
Mengetahui bahwa kamera 360o merupakan teknologi yang awam untuk dikenalkan, penulis beserta mahasiswa mencoba melakukan pendekatan yang mudah dimulai dari dasar kegunaan kamera 360o dan penerapan kamera 360o. Penyampaian ilmu ini diberikan kepada perwakilan pihak pengelola sampah organic dan non-organik yaitu pak Rudi dan pak Tatang.
-
Kegunaan Kamera
Tim menyampaikan bahwa kamera 360° dapat memberikan manfaat dari segi branding. Mengingat lokasi pengelolaan sampah tersebut memiliki ciri khas dengan memanfaatkan pemberdayaan maggot untuk penguraian sampah serta tempat ternak ikan lele dan ayam.
Contoh penerapannya dapat dilihat pada fitur 360° di Google Maps yang secara tidak langsung mempromosikan suatu tempat, wilayah, maupun lokasi. -
Fitur Kamera
Kamera 360° memungkinkan pengguna untuk melihat gambar maupun video secara menyeluruh dan detail. Kamera ini memudahkan penglihat untuk mengamati area atau objek tertentu dari berbagai sudut pandang. - Sistem Kerja Kamera
Penyampaian Ilmu terkait kamera 360
Sistem kerja kamera hampir sama dengan menggunakan kamera DSLR. Namun yang membedakannya dalam pengambilan gambar ialah, proses pengambilan gambar maupun video yang cukup lama. Hal ini dikarenakan gambar akan di scan secara memutar yang kurang lebih memakan waktu 1 – 5 menit.
Hasil Karya
Kantor Binaan Desa Banjarsari

Gambar 4.5. Tampilan Awal virtual tour 360° Desa Binaan Banjarsari
Aplikasi rancangan yang digunakan dalam pembuatan dokumentasi kamera 360° ini menggunakan aplikasi TurboLauncher, aplikasi ini awalnya digunakan untuk perancangan gim, namun juga dapat dimanfaatkan untuk pengadaptasian situs dokumentasi berbasis 360°. Alur pengambilan gambar atau “shot” kamera 360° diawali dari area kantor Binaan Desa Banjarsari sebagai titik awal navigasi.
Pada tampilan awal (area luar kantor), disediakan dua elemen ikon berbentuk elips putih, yaitu (3) dan (4) seperti pada Gambar 4.5. Ikon ini berfungsi sebagai ikon interaktif dimana pengunjung virtual tour 360° berpindah maupun bergerak. untuk ikon elips (3), pengunjung virtual akan diajak menuju isi ruang kantor Desa Banjarsari. Sedangkan untuk elips (4), pengunjung virtual akan diajak menuju ruang resepsionis

Gambar 4.6. Tampilan virtual tour kamera 360° Lobi Kantor Desa Binaan Banjarsari
Bila pengunjung virtual tour memilih ikon elips (3), tampilan akan berubah menjadi ruang lobi kantor yang mencakup Ruang Tunggu Tamu (5), Ruang Aula (6), Ruang Pegawai (7), dan Ruang Kepala Desa (8) Seperti dalam Gambar 4.6. Pengunjung dapat dengan bebas memilih rute, dan Ketika pengunjung menekan masing-masing ikon elips, pengunjung akan dipindahkan ke tiap ruangan dan dapat melihat secara detil gambaran dari ruangan tersebut.
Pemanfaatan kamera 360° dengan sebagai media virtual tour dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat khususnya pegawai dalam memperkenalkan maupun menunjukkan kantor kepala Desa. Selain itu, virtual tour ini dapat memudahkan pengunjung dapat melihat tampilan secara keseluruhan tanpa perlu berkunjung langsung ke tempat.
Virtual Tour 360* Pusat Olah Organik

Gambar 4.7. Tampilan Layar Lokasi Pengelolaan Sampah Olah Organik
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2025
Pada tampilan berikutnya, virtual tour 360° tidak hanya menampilkan ruang kantor binaan, namun juga mengarahkan pengunjung virtual tour 360° untuk melihat area Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) yang ada di Desa Banjarsari tersebut. Salah-satu UMKM ini adalah pusat tempat Pengelolaan Sampah Organik, yang merupakan fasilitas pengelolaan limbah yang ada di desa tersebut.
Pada tampilan, pengunjung virtual tour diperlihatkan elemen teks informatif (2) nama usaha Tempat Pengelolaan Sampah Organik dan Keterangan Lokasi Wilayah (3) Seperti pada Gambar 4.7. Penamaan ini ditampilkan agar pengunjung dapat secara langsung memahami posisi lokasi yang sedang ditampilkan. Pengunjung juga diberikan kemudahan dalam mengeksplorasi gambaran disekitar secara utuh. Setelah itu, pengunjung virtual tour 360° dapat menekan ikon elips untuk menuju bangunan pengelolaan sampah organik.

Gambar 4.8. Tampilan Layar pemilihan dan pengolahan sampah untuk pakan Maggot
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2025
Setelah Pengunjung menekan icon tersebut, layer kemudian bergerak (berpindah) dan menampilkan halaman depan bangunan pengelolaan sampah organik. Pada tambilan, pengunjung dihadapkan dengan terdapat 3 buah gambar elips yang nantinya akan mengarahkan pengunjung virtual tour 360° ke area yang berbeda. Area-area tersebut diantaranya terdapat area Pengelolaan Sampah Organik dan Budidaya Maggot (4), Area Budidaya Ayam Petelur (5), dan Area Budidaya Ikan Lele (6) Seperti pada Gambar 4.8. Pengunjung bebas untuk memilih masing-masing area tersebut.
Tiga area ini menjadi bertujuan untuk memberikan pengenalan alur kerja dan ruang lingkup pengelolaan limbah, dimulai dari tahap pengumpulan sampah, proses pemilahan sampah dan pemberian pakan sampah untuk Maggot seperti pada Gambar 4.9. Kehadiran maggot disini selain untuk budidaya, juga dapat menjadi bahan pakan alternatif untuk pemberdayaan pakan ayam dan juga lele. Informasi Maggot juga dapat pengunjung dapatkan Ketika mengetuk atau “klik” Ikon yang berhuruf “i” pada virtual tour 360°.

Gambar 4.9. Tampilan Dalam Ruangan Pengelolaan Sampah Organik dan Budidaya Maggot
Dengan demikian, pengunjung virtual tour 360° tidak hanya memperoleh Gambaran keseluruhan Lokasi, namun pemanfaatan kamera ini menjadi sebuah media promosi kepada masyarakat secara tidak langsung untuk memperkenalkan UMKM dari Desa Binaan Banjarsari.
Kesimpulan Pelaksanaan
Pengelolaan sampah organic yang terletak pada Desa Banjarsari memiliki potensi branding seperti halnya pada pemanfaatan daur ulang sampah melalui maggot yang menghasilkan pupuk organic serta pakan hewan ternak. Media kamera 360° sebagai alat promosi dan branding mampu memberi solusi yang inovatif dan praktis mengambil gambar ruangan menyeluruh.
Berdasarkan segi penggunaan kamera untuk kebutuhan masyarakat, termasuk pihak pengelola. Pemberdayaan ilmu penggunaan kamera ini cukup penting dikarenakan dapat membantu pihak pengelola dalam memperkenalkan lokasi serta tempat pengelolaan sampah organic melalui maggot.
Pendekatan yang dilakukan adalah dengan merancang virtual tour 360° berdasarkan kebutuhan mitra yaitu mengenai pengelolaan sampah organik melalui maggot, menggunakan kamera 360o beserta fiturnya, kemudian disusul dengan merancang melalui perangkat lunak 3D Vista.
Saran
Pemanfaatan media kamera 360o sangat efektif digunakan dalam kebutuhan virtual tour dan dijadikan sebagai media promosi maupun branding. Penulis mengharapkan agar pemanfaatan media ini dapat dikembangkan tidak hanya pada promosi virtual tour ruangan, melainkan pada sector-sektor yang penting yang memerlukan perhatian dari masyarakat.
