UMKM Artisan Coko merupakan brand lokal yang bergerak di bidang Food & Beverages
dengan permasalahan tersebut. UMKM Artisan Coko beralamat di Jl. Sukabirus No. 40C,
Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung dan hanya memiliki satu gerai setelah menutup gerai
kedua nya di Cirebon. UMKM Artisan Coko telah berdiri sejak tahun 2020 yang dimulai dengan
hanya gerobak dan belum ada tempat resmi, sebelum akhirnya mendirikan gerai utama di
tahun 2022 di Sukabirus. Pembuatan UMKM Artisan Coko merupakan inisiasi dari
Muhammad Qareza Qualdi, seorang antusias coklat dan kopi yang merasa pasar coffeeshop
terlalu jenuh dan memerlukan warna baru. Dibentuklah sebuah brand coklat dan kopi
bernama UMKM Artisan Coko, yang memiliki fokus pada keunikan rasa, keberlanjutan dan
kesejahteraan.
Setelah melakukan wawancara dengan tim pemasaran UMKM Artisan Coko, dijelaskan
bahwa permasalahannya berkaitan dengan fenomena yang telah dibahas sebelumnya.
UMKM Artisan Coko tidak pernah mengalami permasalahan dengan kekurangan pelanggan,
kecuali saat masa libur semester kuliah. Untuk mengurangi dampak penurunan penjualan
hingga 50%, tim pemasaran menjelaskan bahwa mereka merubah fokus penjualan utama
dari penjualan langsung di gerai menjadi pendirian booth di event sekitar Bandung. Dijelaskan
juga, untuk mengakomodir penjualan dan menembus pasar di luar mahasiswa, UMKM Artisan
Coko mulai menggunakan e-commerce untuk menjual produk-produk mereka.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan media
promosi baik cetak dan digital yang menarik. Desain media promosi tersebut dibuat dengan
tujuan meningkatkan keunikan booth milik UMKM Artisan Coko yang diharapkan dapat
meningkatkan frekuensi pendatang. Untuk menunjang proses memasuki e-commerce, maka
perlu dibuat rancangan poster digital yang baik untuk menampilkan produk UMKM Artisan
Coko.
Pada Pelaksaanaannya tim pelaksana melakukan perancangan berdasarkan proses
perencanaan yang telah dilakukan, dan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan
sebelumnya dalam proses perencanaan. Tim pelaksana melakukan diskusi mengenai
pendekatan desain yang ingin digunakan dan yang paling sesuai dengan karakteristik UMKM
Artisan Coko setelah melakukan wawancara dan mendalam.
Setelah membahas konsep yang dapat disetujui bersama oleh tim pelaksana, maka dilakukan
pengumpulan data dan referensi visual menggunakan website Miro sebagai papan
perancangan bersama. Setelah menentukan jenis media promosi yang ingin diproduksi, tim
pelaksana menghubungi pihak UMKM Artisan Coko untuk menerima umpan balik mengenai
penentuan media promosi. Hal ini dilaksanakan karena evaluasi berbasis umpan balik
mencegah kegagalan program dengan memahami tantangan nyata seperti ekonomi atau
sosial melalui partisipasi aktif masyarakat (Mahardika et al. 2024).
Gambar 4.1 Proses diskusi dan umpan balik perencanaan.
Setelah menentukan konsep dari perancangan media promosi yang akan digunakan dalam
beberapa media, tim pelaksana lanjutkan dengan analisis media promosi yang telah
digunakan oleh UMKM Artisan Coko. Hal ini diperlukan agar hasil media promosi yang
dirancang tidak keluar dari arah visual yang sudah ditentukan oleh masyarakat sasar.
Selanjutnya tim pelaksana menambahkan referensi visual berupa beberapa foto dan suasana
yang menggambarkan karakteristik UMKM Artisan Coko.
Gambar 4.4 Hasil sketsa media promosi.
Dengan mengkombinasi ide, desain eksisting dan suasana yang ingin ditampilkan, tim
pelaksana menghasilkan beberapa sketsa kasar untuk menggambarkan arah visual yang
akan digunakan ketika akan memasuki tahapan digitalisasi. Karena dikerjakan secara paralel
oleh tim pelaksana, penggunaan software untuk menampilkan sketsa kasar beragam dan
mencakup diantaranya: Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, Procreate dan Clip Studio Paint.
Gambar 4.5 Diskusi umpan balik
Setelah mendapatkan umpan balik mengenai perubahan kebutuhan media promosi dari
UMKM Artisan Coko, tim pelaksana mengadakan pertemuan kembali untuk menyesuaikan
perancangan eksisting sesuai dengan permintaan masyarakat sasar. Terdapat beberapa
media promosi yang direncanakan tidak lanjut ke tahap akhir, seperti: merchandise, id card
dan lanyard dan digantikan dengan: kemasan minuman dan poster.
Setelah menyesuaikan dengan permintaan UMKM Artisan Coko, tim pelaksana melakukan
finalisasi kepada tiap media promosi secara paralel agar dapat siap untuk diproduksi. Untuk
kebutuhan cetak, tim pelaksana menggunakan vector based software seperti Adobe Illustrator
dan Procreate dengan tujuan mengurangi kemungkinan visual yang rusak dan warna yang
berantakan.
Gambar 4.6 Tampilan media promosi.
Pada tahapan produksi, tim pelaksana melakukan validasi terakhir kepada UMKM
Artisan Coko, serta mewujudkan finalisasi perancangan dalam bentuk fisik. Tim pelaksana
menggunakan beberapa vendor secara paralel yang dapat mencetak hasil perancangan
dalam jarak waktu yang dekat agar dapat segera diserahkan kepada masyarakat sasar.Pada
tanggal 8 Desember 2025 bertempat di Artisan Coko Sukabirus, tim peneliti menyerahkan
hasil rancangan ini kebada UMKM tersebut, Hasilnya pihak UMKM Artisan Coko pun merasa
puas dan terbantu dengan adanya perancangan media promosi ini.
Gambar 4.7 Produksi media promosi.
Tim Dosen:
ADYA MULYA PRAJANA (NIP: 23780005)
PATRA ADITIA (NIP: 23800004)
ARIA AR RAZI (NIP: 24910003)
Program Pengabdian kepada Masyarakat telah dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa dengan mitra UMKM Belladonna, sebuah usaha di bidang kecantikan yang bergerak pada layanan nail art serta manicure dan pedicure berbasis gel polish di Kota Bandung. Program ini diketuai oleh dosen prodi S1 Desain Komunikasi Visual, Wahyu Lukito, dengan anggota tim Rizki Yantami Arumsari dan Riky Azharyandi Siswanto.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang mendorong perubahan strategi promosi di berbagai sektor usaha, termasuk industri kecantikan. Media digital kini menjadi sarana utama promosi karena mampu menjangkau audiens lebih luas, meningkatkan interaksi dengan pelanggan, serta membangun identitas visual usaha secara konsisten. Pada sektor wirausaha nail art, digital marketing berperan penting dalam meningkatkan kesadaran merek dan keterlibatan konsumen.
Belladonna, yang berdiri pada tahun 2024 dan beralamat di Jl. Batik Kumeli No. 72 Kota Bandung, dikenal dengan konsep studio bertema vintage bernuansa pink serta sistem pembayaran unik bayar terserah. Meski memiliki daya tarik kuat, hasil wawancara menunjukkan bahwa Belladonna masih menghadapi kendala dalam pengelolaan media promosi. Tampilan visual pada media sosial, khususnya Instagram, belum konsisten dan belum optimal dalam mendorong engagement. Pengelolaan media sosial juga masih dilakukan secara sederhana sehingga potensi branding belum dimanfaatkan secara maksimal.
Menanggapi permasalahan tersebut, tim pengabdian melaksanakan pengembangan media promosi dengan fokus pada pembentukan identitas visual yang konsisten. Luaran kegiatan meliputi foto produk, template desain feeds Instagram, poster digital informasi produk dan layanan, serta media cetak seperti poster, kemasan, loyalty card, stempel, buku paket perawatan, dan sticker. Media tersebut dirancang untuk mendukung branding dan memperluas jangkauan pemasaran Belladonna.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung melalui tiga tahapan. Tahap pra produksi dilakukan pada November hingga Desember dengan kegiatan observasi langsung ke studio Belladonna. Tim melakukan pengamatan terhadap karakter usaha, layanan, serta kebutuhan visual promosi. Tahap produksi dilaksanakan pada November dengan proses perancangan dan pembuatan media promosi sesuai konsep yang disepakati bersama mitra. Tahap pasca produksi mencakup proses editing foto, penyesuaian desain, dan finalisasi seluruh karya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, tim dosen dan mahasiswa melakukan kunjungan terakhir ke Belladonna pada 18 Desember 2025. Pada kunjungan tersebut dilakukan serah terima hibah desain media promosi sekaligus pengambilan umpan balik dari pemilik UMKM. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu Belladonna mengelola promosi secara lebih terarah, meningkatkan engagement di media sosial, serta memperkuat identitas merek di tengah persaingan industri kecantikan.
Desa Banjarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, memiliki potensi ekonomi yang signifikan dalam bidang pertanian, makanan olahan, dan kerajinan tangan. Namun, keterbatasan infrastruktur digital dan rendahnya literasi digital menghambat pelaku usaha desa dalam memasarkan produk mereka secara lebih luas. Kesempatan ekonomi digital yang berkembang pesat di kawasan perkotaan belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat desa, menciptakan kesenjangan ekonomi yang semakin melebar. Oleh karena itu, diperlukan solusi inovatif yang dapat memperkuat konektivitas antara pelaku usaha di desa dan industri di perkotaan guna memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk desa.
Sebagai solusi, program pengabdian masyarakat ini mengusulkan perancangan Virtual Tour 360 yang dirancang untuk mempromosikan serta meningkatkan awareness kepada Masyarakat luas terkait pelaku usaha desa dengan industri besar di sektor manufaktur, retail, serta perhotelan dan pariwisata. Virtual Tour 360 ini dapat menjangkau beberapa Lokasi-lokasi strategis dan potensial untuk dipromosikan dan diperkenalkan pada Masyarakat luas. Dengan implementasi sistematis dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, inisiatif ini bertujuan untuk memperkecil jarak kesenjangan ekonomi antara desa dan kota serta mendorong transformasi digital bagi UMKM di wilayah pedesaan. Untuk pengabdian masyarakat saat ini berfokus pada pengelolaan sampah melalui magot.
Salah satu pengelolaan ekonomi dan produk yang berkembang adalah pengelolaan sampah yang baik, sehingga sesuai kebutuhan mitra kali ini berfokus pada virtual tour 360 di ruang kantor dan tempat pengelolaan sampahnya. Virtual Tour 360 dapat dimanfaatkan sebagai media promosi pariwisata berbasis komunitas. Desa Banjarsari yang memiliki keunikan dalam bidang kerajinan tangan dan makanan olahan dapat menarik wisatawan dan investor melalui pengalaman virtual yang interaktif dan menarik. Dengan adanya Virtual Tour 360, produk-produk lokal dapat lebih mudah diakses oleh calon konsumen dari berbagai daerah, baik nasional maupun internasional. Hal ini dapat meningkatkan omset pelaku usaha serta memperkuat posisi produk desa di pasar digital.
Gambar 4.1 Internal Meeting Abdimas
Kegiatan diawali dengan melakukan kordinasi meeting internal tim abdimas untuk merencanakan keberangkatan dan aktivitas yang dilakukan di Desa Banjarsari. Dalam kordinasi yang telah dilakukan, aktivitas abdimas pertama adalah kordinasi dengan pihak terkait di Desa Banjarsari yang dilakukan pada:
Hari, tanggal : Kamis, 21 Juni 2025
Waktu : 09.00 – 13.00
Tempat : Kantor Desa Banjarsari
Gambar 4.2 Kordinasi Abdimas di Desa Banjarsari
Pada tahap awal, telah dilakukan kegiatan pengenalan terhadap ruang lingkup serta potensi yang dimiliki Desa Banjarsari, yang diselenggarakan di kantor desa setempat. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Desa, Bapak Edi, beserta jajaran perangkat desa lainnya sebagai bentuk dukungan dan komitmen penuh dari pihak pemerintah desa terhadap program yang direncanakan. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan informasi mengenai potensi UMKM lokal, karakteristik masyarakat desa, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam memasarkan produk secara digital. Diskusi yang berlangsung secara interaktif juga memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM dan perangkat desa untuk menyampaikan harapan serta kebutuhan mereka. Kegiatan ini menjadi landasan penting agar semua pihak memperoleh pemahaman yang selaras dan memiliki komitmen bersama dalam mendukung keberhasilan program pemanfaatan media sosial untuk keperluan branding dan promosi UMKM desa.
Gambar 4.3 Survei Lokasi Virtual Tour di Desa Banjarsari
Dalam diskusi yang berlangsung, muncul gagasan untuk merancang sebuah virtual tour 360° yang menampilkan area pengelolaan limbah sampah di Desa Banjarsari, serta mendokumentasikan seluruh proses pengolahan mulai dari sampah masuk hingga tahap akhir. Virtual tour ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara pengelolaan sampah yang benar, sehingga diharapkan ke depannya masyarakat lebih bijak dan bertanggung jawab dalam membuang dan mengelola sampah.
Pada bulan Agustus direncanakan dengan tahap perekaman video & foto 360 yang berfokus pada objek pengumpulan, pengeolaan dan pemanfaatan sampah. Perancangan ini akan dilakukan melalui sesi konsultasi rutin, baik secara individu maupun kelompok, untuk mengatasi kendala teknis maupun konseptual dalam proses produksi virtual tour. Tim abdimas akan memberikan mengambil gambar, penyusunan alur narasi visual, serta penggunaan perangkat lunak dan teknologi yang mendukung pembuatan virtual tour. Pemerintah desa juga dapat memberikan dukungan, terutama dalam penyediaan infrastruktur seperti talent, mengarahkan arah narasi video dan lain sebagainya.
Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mengedukasi masyarakat, khususnya masyarakat, pelaku UMKM atau pengelola destinasi lokal, agar selain mendapatkan edikasi juga dapat mengelola virtual tour secara mandiri sebagai sarana edukasi, promosi, dan pelestarian informasi pengelolaan limbah sampah lokal. Kegiatan bulan Agustus akan diawali dengan pengambilan video dan gambar 360. Selanjutnya, akan dirancang kedalam software 360. Setelah itu akan dilakukan transfer ilmu pengelolaan virtual tour 360. Pengumpulan masukan (feedback) dari pihak terkait terutama di Desa Banjarsari juga akan dilakukan guna menyempurnakan materi virtual tour, sehingga program benar-benar selaras dengan kebutuhan aktual warga Desa Banjarsari. Dengan pendekatan sistematis ini, diharapkan pengembangan virtual tour 360° dapat menjadi media efektif dalam pengelolaan limbah sampah.
Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada tanggal 13 Agustus 2025 di kawasan Kantor Binaan, Desa Banjarsari. Fokus kegiatan ini adalah pengenalan teknik pengambilan gambar dan video 360°. Tim pelaksana terdiri atas dua orang mahasiswa yang didampingi oleh seorang dosen. Adapun pembimbing lapangan sekaligus perwakilan pihak pengelola adalah Bapak Rudi. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung pada pukul 12.00 hingga 14.00 WIB.
Awal mula kegiatan, tim disambut dengan bapak Rudi yang memperkenalkan ruang lingkup pengelolaan sampah organic dan non-organik yang ada dikawasan tersebut. Sebagian besar, hasil sampah ini dimanfaatkan untuk makanan maggot (larva) dari lalat yang nantinya dikelola menjadi pakan ternak dan pupuk. Tidak heran jika berkunjung ke tempat tersebut di halaman depannya akan disuguhkan tempat peternakan seperti peternakan ikan
Gambar 4.4. 5 Sektor lokasi sebagai tempat penangkapan gambar 360o
Lele dan peternakan Ayam. Sedangkan didalamnya terdapat pengelolaan tempat sampah dan pemberdayaan Maggot seperti yang ditampilkan pada gambar 4.4.
Terdapat 5 sektor lokasi yang akan diambil untuk perekaman foto dan video 360o yaitu diantaranya tempat pengumpulan sampah (organic dan non-organic), tempat pemilahan sampah, tempat pemberdayaan maggot, tempat budidaya ternak ikan Lele, dan tempat budidaya ternak ayam. Pengambilan gambar tersebut dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan penempatan yang pas (posisi kamera berada di center (pusat) tiap tempat). Selain itu, posisi seseorang diusahakan menghindar dari depan kamera agar tidak mengganggu pengambilan foto.
Penyampaian Ilmu terkait kamera 360
Mengetahui bahwa kamera 360o merupakan teknologi yang awam untuk dikenalkan, penulis beserta mahasiswa mencoba melakukan pendekatan yang mudah dimulai dari dasar kegunaan kamera 360o dan penerapan kamera 360o. Penyampaian ilmu ini diberikan kepada perwakilan pihak pengelola sampah organic dan non-organik yaitu pak Rudi dan pak Tatang.
Kegunaan Kamera
Tim menyampaikan bahwa kamera 360° dapat memberikan manfaat dari segi branding.
Mengingat lokasi pengelolaan sampah tersebut memiliki ciri khas dengan memanfaatkan
pemberdayaan maggot untuk penguraian sampah serta tempat ternak ikan lele dan ayam.
Contoh penerapannya dapat dilihat pada fitur 360° di Google Maps yang secara tidak langsung
mempromosikan suatu tempat, wilayah, maupun lokasi.
Fitur Kamera
Kamera 360° memungkinkan pengguna untuk melihat gambar maupun video secara menyeluruh
dan detail. Kamera ini memudahkan penglihat untuk mengamati area atau objek tertentu
dari berbagai sudut pandang.
Sistem Kerja Kamera
Penyampaian Ilmu terkait kamera 360
Sistem kerja kamera hampir sama dengan menggunakan kamera DSLR. Namun yang membedakannya dalam pengambilan gambar ialah, proses pengambilan gambar maupun video yang cukup lama. Hal ini dikarenakan gambar akan di scan secara memutar yang kurang lebih memakan waktu 1 – 5 menit.
Hasil Karya
Kantor Binaan Desa Banjarsari
Gambar 4.5. Tampilan Awal virtual tour 360° Desa Binaan Banjarsari
Aplikasi rancangan yang digunakan dalam pembuatan dokumentasi kamera 360° ini menggunakan aplikasi TurboLauncher, aplikasi ini awalnya digunakan untuk perancangan gim, namun juga dapat dimanfaatkan untuk pengadaptasian situs dokumentasi berbasis 360°. Alur pengambilan gambar atau “shot” kamera 360° diawali dari area kantor Binaan Desa Banjarsari sebagai titik awal navigasi.
Pada tampilan awal (area luar kantor), disediakan dua elemen ikon berbentuk elips putih, yaitu (3) dan (4) seperti pada Gambar 4.5. Ikon ini berfungsi sebagai ikon interaktif dimana pengunjung virtual tour 360° berpindah maupun bergerak. untuk ikon elips (3), pengunjung virtual akan diajak menuju isi ruang kantor Desa Banjarsari. Sedangkan untuk elips (4), pengunjung virtual akan diajak menuju ruang resepsionis
Gambar 4.6. Tampilan virtual tour kamera 360° Lobi Kantor Desa Binaan Banjarsari
Bila pengunjung virtual tour memilih ikon elips (3), tampilan akan berubah menjadi ruang lobi kantor yang mencakup Ruang Tunggu Tamu (5), Ruang Aula (6), Ruang Pegawai (7), dan Ruang Kepala Desa (8) Seperti dalam Gambar 4.6. Pengunjung dapat dengan bebas memilih rute, dan Ketika pengunjung menekan masing-masing ikon elips, pengunjung akan dipindahkan ke tiap ruangan dan dapat melihat secara detil gambaran dari ruangan tersebut.
Pemanfaatan kamera 360° dengan sebagai media virtual tour dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat khususnya pegawai dalam memperkenalkan maupun menunjukkan kantor kepala Desa. Selain itu, virtual tour ini dapat memudahkan pengunjung dapat melihat tampilan secara keseluruhan tanpa perlu berkunjung langsung ke tempat.
Virtual Tour 360* Pusat Olah Organik
Gambar 4.7. Tampilan Layar Lokasi Pengelolaan Sampah Olah Organik Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2025
Pada tampilan berikutnya, virtual tour 360° tidak hanya menampilkan ruang kantor binaan, namun juga mengarahkan pengunjung virtual tour 360° untuk melihat area Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) yang ada di Desa Banjarsari tersebut. Salah-satu UMKM ini adalah pusat tempat Pengelolaan Sampah Organik, yang merupakan fasilitas pengelolaan limbah yang ada di desa tersebut.
Pada tampilan, pengunjung virtual tour diperlihatkan elemen teks informatif (2) nama usaha Tempat Pengelolaan Sampah Organik dan Keterangan Lokasi Wilayah (3) Seperti pada Gambar 4.7. Penamaan ini ditampilkan agar pengunjung dapat secara langsung memahami posisi lokasi yang sedang ditampilkan. Pengunjung juga diberikan kemudahan dalam mengeksplorasi gambaran disekitar secara utuh. Setelah itu, pengunjung virtual tour 360° dapat menekan ikon elips untuk menuju bangunan pengelolaan sampah organik.
Gambar 4.8. Tampilan Layar pemilihan dan pengolahan sampah untuk pakan Maggot
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2025
Setelah Pengunjung menekan icon tersebut, layer kemudian bergerak (berpindah) dan menampilkan halaman depan bangunan pengelolaan sampah organik. Pada tambilan, pengunjung dihadapkan dengan terdapat 3 buah gambar elips yang nantinya akan mengarahkan pengunjung virtual tour 360° ke area yang berbeda. Area-area tersebut diantaranya terdapat area Pengelolaan Sampah Organik dan Budidaya Maggot (4), Area Budidaya Ayam Petelur (5), dan Area Budidaya Ikan Lele (6) Seperti pada Gambar 4.8. Pengunjung bebas untuk memilih masing-masing area tersebut.
Tiga area ini menjadi bertujuan untuk memberikan pengenalan alur kerja dan ruang lingkup pengelolaan limbah, dimulai dari tahap pengumpulan sampah, proses pemilahan sampah dan pemberian pakan sampah untuk Maggot seperti pada Gambar 4.9. Kehadiran maggot disini selain untuk budidaya, juga dapat menjadi bahan pakan alternatif untuk pemberdayaan pakan ayam dan juga lele. Informasi Maggot juga dapat pengunjung dapatkan Ketika mengetuk atau “klik” Ikon yang berhuruf “i” pada virtual tour 360°.
Gambar 4.9. Tampilan Dalam Ruangan Pengelolaan Sampah Organik dan Budidaya Maggot
Dengan demikian, pengunjung virtual tour 360° tidak hanya memperoleh Gambaran keseluruhan Lokasi, namun pemanfaatan kamera ini menjadi sebuah media promosi kepada masyarakat secara tidak langsung untuk memperkenalkan UMKM dari Desa Binaan Banjarsari.
Kesimpulan Pelaksanaan
Pengelolaan sampah organic yang terletak pada Desa Banjarsari memiliki potensi branding seperti halnya pada pemanfaatan daur ulang sampah melalui maggot yang menghasilkan pupuk organic serta pakan hewan ternak. Media kamera 360° sebagai alat promosi dan branding mampu memberi solusi yang inovatif dan praktis mengambil gambar ruangan menyeluruh.
Berdasarkan segi penggunaan kamera untuk kebutuhan masyarakat, termasuk pihak pengelola. Pemberdayaan ilmu penggunaan kamera ini cukup penting dikarenakan dapat membantu pihak pengelola dalam memperkenalkan lokasi serta tempat pengelolaan sampah organic melalui maggot.
Pendekatan yang dilakukan adalah dengan merancang virtual tour 360° berdasarkan kebutuhan mitra yaitu mengenai pengelolaan sampah organik melalui maggot, menggunakan kamera 360o beserta fiturnya, kemudian disusul dengan merancang melalui perangkat lunak 3D Vista.
Saran
Pemanfaatan media kamera 360o sangat efektif digunakan dalam kebutuhan virtual tour dan dijadikan sebagai media promosi maupun branding. Penulis mengharapkan agar pemanfaatan media ini dapat dikembangkan tidak hanya pada promosi virtual tour ruangan, melainkan pada sector-sektor yang penting yang memerlukan perhatian dari masyarakat.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat yaitu Pemanfaatan Abu Pembakaran Sampah Anorganik Sebagai Material Bangunan Non Struktural yang melibatkan Partisipasi Pengelola TPS3R Lembangsari Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung yang didanai oleh DRTPM telah dilaksanakan. Dengan di ketuai oleh Dosen Fakultas Industri Kreatif Universitas Telkom yaitu Fajar Ciptandi, dengan anggota Tim Ira Wirasari dan Ayub Ilfandy, kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan dengan meminimalisir sampah anorganik yang ada di kawasan Desa Tarumajaya dengan memanfaatkan abu pembakarannya menjadi produk alternatif. Selain itu potensi pelestarian lingkungan melalui pengurangan konsumsi SDA untuk pembuatan material bahan bangunan, digantikan dengan menggunakan bahan baku dari abu sisa pembakaran sampah anorganik.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu:
Tahap 1 : Pembekalan pengetahuan dan keterampilan terkait teknik dan material pengolahan abu sisa pembakaran sampah anorganik.
Tahap 2 : Penerapan teknologi
Tahap 3 : Pendampingan partisipatoris
Untuk kemudian nanti akan dilanjutkan dengan tahap 4 dan 5, untuk evaluasi dan penutupan kegiatan. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini meningkatkan potensi peningkatan pengetahuan terhadap urgensi pengelolaan sampah secara baik mendorong inisiatif masyarakat untuk melestarikan lingkungan, serta peningkatan keterampilan teknis turut membantu masyarakat untuk dapat mengembangkan produk secara mandiri. Serta dampak dan manfaat lainnya adalah memberikan kualitas kehidupan yang lebih baik dan sehat dengan terbentuknya siklus baru dalam mengolah sampah dengan memanfaatkan limbah hasil pembakaran sampah menjadi produk fungsional. Hal ini turut mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Oleh : Santi Salayanti, Vany Octaviany, Syarip Hidayat, Rexha Septine Feril Nanda
Fakultas Industri Kreatif & Fakultas Komunikasi Sosial
Telkom University
Kapan Kegiatan Abdimas ini berlangsung?
Selasa 1 Juli 2025 di Jl Ciganitri Mukti N0 161, Terusan Buah Batu. , Cipagalo, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Apa latar belakangnya?
Desa Cipagalo terletak di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Desa ini memiliki karakteristik wilayah yang strategis karena berdekatan dengan pusat kota Bandung, menjadikannya potensial untuk pengembangan sebagai desa wisata berbasis kearifan lokal dan ekonomi kreatif. Terdapat ruang publik yang berada pada lokasi di Desa Cipagalo memiliki peran penting dalam membangun interaksi sosial dan memperkuat karakter masyarakat. Diperlukan untuk menganalisis pengaruh optimalisasi ruang publik di Sentra Kuliner terhadap pembentukan karakter sosial masyarakat Desa Cipagalo.
Kondisi kawasan yang menjadi fokus perancangan pasar modern terletak berdampingan dengan fasilitas olahraga yang sudah ada, yaitu lapangan volly atau basket dan lapangan futsal. Kehadiran kedua fasilitas ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah menjadi pusat interaksi sosial dan aktivitas komunitas, khususnya bagi kalangan muda dan keluarga. Dibutuhkan sebagai fasilitas pelengkap pasar moderen yang representatif dan terorganisir secara modern di kawasan ini membuat potensi ekonomi lokal belum tergarap secara optimal. Hal ini dikarenakan pasar tradisional yang ada di sekitar Desa Cipagalo cenderung tidak terintegrasi dengan baik, memiliki fasilitas yang kurang memadai, serta belum mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat modern yang menginginkan kenyamanan, kebersihan, dan keamanan saat berbelanja. Selain itu, banyak pelaku UMKM lokal dan pedagang kecil yang membutuhkan ruang usaha yang lebih layak dan strategis untuk mengembangkan usaha mereka. Dengan demikian diharapkan aktivitas ekonomi lokal dapat meningkat, mengoptimalisasikan kawasan multifungsi, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dengan mengusung konsep pasar modern berbasis komunitas, yang tetap mempertahankan kearifan lokal namun dengan pendekatan desain kontemporer.
Pengabdian Kepada Masyarakat ini juga relevan dengan pengajaran MK yang diampu oleh ketua dan juga kompetensi anggota baik dosen maupun mahasiswa yang dilibatkan, serta roadmap kegiatan Pengabdian yang diusung oleh Kelompok Keahlian AECTIVA dari Fakultas Industri Kreatif.Luaran dari kegiatan pengabdian masayarakat ini tentunya juga akan menjadi artikel ilmiah terkait sosialisasi inovasi desain anyaman bambu sebagai elemen ruang. Masyarakat pada pengabdian ini meliputi para pemuda yang aktif, ibu-ibu yang kreatif mengembangkan kerajinan dan yang melakukan kolaborasi bisnis menjadi ciri khas Desa Cipagalo. Dengan begitu, kegiatan abdimas yang akan dilakukan juga telah sesuai dengan Roadmap KK AECTIVA dimana salah satu topik yang terkait adalah “Quality Education”. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini juga sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam Roadmap KK AECTIVA, kegiatan abdimas yang akan diusung oleh tim diharapkan sejalan dengan KK AECTIVA dan berkelanjutan pada kegiatan berikutnya. Kesesuian abdimas dengan Roadmap KK AECTIVA dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel Roadmap KK AECTIVA Sumber : KK Aectiva, Fakultas Industri Kreatif
Apa saja kegiatan utama & proses abdimas ini berlangsung?
Beberapa solusi pada pengabdian kepada masyarakat terkait "Perancangan Desain Pasar Modern dalam Meningkatkan Aksesibilitas dan Kualitas Produk di Desa Cipagalo: Pendekatan Interaksi Sosial Masyarakat" diantaranya adalah:
Peningkatan Aksesibilitas Pasar: Desain Tata Letak Ramah Pengguna: Membuat jalur pedestrian yang lebar, akses bagi penyandang disabilitas, serta area parkir yang tertata untuk kendaraan umum dan pribadi. Transportasi dan Mobilitas: Menyediakan jalur khusus bagi kendaraan distribusi serta akses transportasi umum yang mudah dijangkau masyarakat. Penerangan dan Keamanan: Meningkatkan pencahayaan serta pemasangan CCTV untuk kenyamanan dan keamanan pengunjung serta pedagang.
Peningkatan Kualitas Produk dan Fasilitas Pasar: Zona Pasar Bersih dan Higienis: Membuat zona khusus untuk produk segar dengan sistem sanitasi yang baik guna memastikan kebersihan dan daya tahan produk. Sistem Penyimpanan dan Pengemasan: Memberikan fasilitas pendingin untuk produk mudah rusak serta edukasi mengenai teknik pengemasan yang lebih higienis dan menarik. Sertifikasi dan Standarisasi Produk: Bekerja sama dengan dinas terkait untuk memberikan pelatihan dan sertifikasi produk lokal agar lebih kompetitif di pasar yang lebih luas.
Penguatan Interaksi Sosial dan Ekonomi Masyarakat: Pelatihan dan Pendampingan Pedagang: Mengadakan workshop mengenai strategi pemasaran, penggunaan teknologi digital untuk promosi, dan manajemen keuangan bagi pedagang lokal. Pasar Digital dan E-Commerce: Mengembangkan platform daring untuk pemasaran produk lokal, sehingga jangkauan pasar lebih luas dan tidak hanya terbatas pada transaksi langsung di lokasi. Kolaborasi dengan UMKM dan Komunitas: Mendorong keterlibatan pelaku usaha mikro dan komunitas lokal untuk berpartisipasi dalam pengelolaan pasar guna menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif.
Implementasi Teknologi dalam Pengelolaan Pasar: Sistem Pembayaran Digital: Memfasilitasi transaksi menggunakan dompet digital atau QRIS guna meningkatkan transparansi dan efisiensi pembayaran. Sistem Informasi Pasar: Menyediakan papan informasi digital atau aplikasi sederhana untuk menampilkan harga produk, ketersediaan barang, serta jadwal operasional pasar. Manajemen Limbah dan Ramah Lingkungan: Menerapkan sistem daur ulang dan pengelolaan sampah berbasis komunitas agar pasar tetap bersih dan berkelanjutan.
Lokasi lahan yang berada di kawasan Desa Cipagalo memiliki lahan diantaranya berfungsi sebagai lapangan serbaguna yang sering dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas warga seperti olahraga dan perayaan hari besar. Dengan luas sekitar 340 m² (20 x 17 meter), kontur lahan yang datar dan terbuka sangat mendukung pengembangan fisik bangunan, terutama untuk pasar skala kecil hingga menengah.
Gambar 1. Kondisi Eksisting yang menjadi Objek Perancangan Sumber: Sekretaris Desa
Gambar 2. Kondisi Eksisting dan Denah Layout Pasar Modern Sumber: Gambar Pribadi
Letaknya yang strategis, mudah dijangkau, bebas dari lalu lintas padat, serta berada dalam suasana desa yang aman dan nyaman menjadikannya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi pusat perdagangan seperti pasar modern.
Aksesibilitasnya yang langsung terhubung ke jalan lokal memudahkan pergerakan pejalan kaki maupun kendaraan ringan. Selain itu, lingkungan sekitar yang terdiri dari permukiman warga dan UMKM memberikan peluang besar bagi aktivitas ekonomi lokal.
Pasar ini akan mengintegrasikan dua fungsi utama: area perdagangan bahan makanan dan zona kuliner (pujasera) yang saling melengkapi namun memiliki zona terpisah demi kenyamanan dan higienitas.
Letaknya yang dekat lapangan olahraga memberikan nilai tambah berupa pemandangan terbuka dan ruang bersantai bagi pengunjung, juga fleksibel penambahan dan pengurangan booth portable pedagang pada kawasan tersebut.
Perancangan pasar modern dan pujasera di sekitar lapangan olahraga Desa Cipagalo dirancang sebagai pusat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat desa, dengan pendekatan tata ruang yang efisien dan ramah lingkungan.
Perancangan disini mengalokasikan tempat makan dan jajan yang terbuka dan aktif sepanjang hari. Zona ini dirancang dengan kios semi permanen yang dilengkapi meja makan, pencahayaan alami, serta sirkulasi udara yang baik.
Pasar dirancang dengan pembagian area yang jelas antara zona basah dan zona kering. Zona basah diperuntukkan bagi pedagang sayur, ikan, daging, dan kebutuhan pokok harian lainnya. Area ini diletakkan di bagian yang memiliki sistem drainase baik dan mudah dijangkau kendaraan pengangkut barang, serta dirancang agar mudah dibersihkan dan tidak mencemari area lainnya. Sementara itu, zona kering ditempatkan di sisi lain, diperuntukkan bagi penjualan sembako, produk UMKM, pakaian, dan barang kering lainnya.
Tata letak fasilitas kuliner juga mempertimbangkan sirkulasi yang lancar, berdekatan dengan zona parkir kendaraan, akses pejalan kaki, serta fasilitas penunjang seperti mushola, toilet umum, dan ruang pengelola. Dengan pendekatan desain yang menyatu dengan lingkungan desa dan kebutuhan warga, pasar modern dan pujasera ini diharapkan menjadi simpul baru pertumbuhan ekonomi dan interaksi sosial masyarakat Cipagalo secara berkelanjutan.
Dengan penerapan solusi-solusi ini, pasar modern di Desa Cipagalo diharapkan dapat menjadi pusat ekonomi yang lebih maju, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat interaksi sosial antar warga.
Implementasi SDGs
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini mendukung program SDGs poin 3 adalah mendukung pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) adalah "Kehidupan Sehat dan Sejahtera" atau "Good Health and Well-Being." Meningkatkan aksesibilitas bagi semua kelompok, termasuk penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil dan Menyediakan edukasi kesehatan bagi pedagang dan pembeli terkait kebersihan, keamanan pangan, dan gizi.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini mendukung program SDGs poin 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dimana produk yang akan dirancang diaharapkan dapat meingkatkan efektifitas, aksesibilitas dan fasilitas penunjang kawasan wisata, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dengan kreatif dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat sekitar.
SDGs poin 17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan menekankan pentingnya memperkuat kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan, termasuk di dalamnya pembiayaan, teknologi, pembangunan kapasitas, perdagangan, serta data dan pemantauan. Mobilisasi sumber daya keuangan, transfer teknologi, pengembangan kapasitas, perdagangan, dan kerjasama sistematik. SDGs poin 17 ini berperan penting dalam memastikan bahwa semua pihak, baik pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat sipil, bekerja sama secara efektif untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia.
Fransmiki craft merupakan UMKM yang mempunyai fokus pada produksi kerajinan boneka flanel dengan konsep etnik nusantara dan totebag etnik nusantara. Fransmiki mempunyai misi untuk memperkenalkan keragaman budaya nusantara dan memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar. Selain itu produk yang dihasilkan dapat dijadikan alat penunjang edukasi keragaman budaya nusantara pada masyarakat umum.
Keragaman produk boneka etnis Fransmiki memberikan potensi untuk pengembangan desain kemasan. Aktivitas pengabdian masyarakat dengan skema teknologi tepat guna merupakan kelanjutan dari kegiatan pengabdian masyarakat period 2 2024 yang memberi focus pada pengembangan kemasan produk boneka etnis Bali. Untuk kegiatan pengabdian masyarakat periode 1 2025 kali ini akan difokuskan pada produk boneka etnik Dayak, Minangkabau dan Palembang. Keunggulan produk yang detail dan pengerjaan yang rapih menjadikan produk ini memiliki kualitas yang tinggi. Namun dukungan dari kemasan yang merepresentasikan kualitas baik dari produk tersebut diharapkan dapat meningkatkan emosi dengan calon konsumen. Perancangan kemasan dan informasi produk inilah yang menjadi fokus dalam kegiatan pengabdian masyakarat. Solusi desain dalam aktivitas ini diharapkan dapat meningkatkan produk Fransmiki menjadi produk yang berdaya jual dan berkualitas tinggi. Sehingga target pasar dapat diperluas dari pangsa lokal ke pangsa internasional.
Fransmiki mulai berdiri pada bulan Mei 2019 di Surakarta Jawa Tengah (Gambar 1). Setelah beberapa tahun berjalan akhirnya pada tahun 2021 mulai serius menekuni kerajinan tangan boneka yang bertemakan pakaian adat nusantara. Dan mulai memperkenalkan boneka pakaian adat dengan bergabung di komunitas-komunitas UMKM yang ada di Surakarta, serta mulai aktif mengikuti pameran yang ada.
Gambar Logo UMKM Fransmiki Fransmiki mempunyai misi untuk memperkenalkan keragaman budaya nusantara dan memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar. Selain itu produk yang dihasilkan dapat dijadikan alat penunjang edukasi keragaman budaya nusantara pada masyarakat umum. Produksi produk boneka etnik ini dilakukan secara manual (handmade) dengan detail dan kualitas yang baik.
Solusi yang ditawarkan pada masyarakat sasar UMKM Fransmiki adalah perancangan desain kemasan beserta pengelolaan informasi data produk dengan tema yang sama dari perancangan kemasan produk etnik adat Bali (Gambar 8). Untuk solusi aktivitas pengabdian masyarakat teknologi tepat guna difokuskan pada kemasan boneka etnik Dayak, Sumatera Selatan dan Minangkabau. Hasil rancangan kemasan ini diharapkan dapat meningkatkan minat beli target konsumen dan sekaligus memberikan edukasi keragaman etnik Nusantara yang ada di Indonesia.
Pelaksanaan Hari, tanggal : Januari 2025 – Juli 2025 Waktu : 08.00-17.00 Tempat : Bandung, Solo
Pelaksanaan pengabdian Masyarakat dilakukan di Bandung dengan berkonsultasi dengan owner Fransmiki yang berada di Solo. Komunikasi untuk mendapatkan data dan diskusi dilakukan via online meeting dan Whatsapp. Perancangan kemasan secara utama menggunakan software pengolah vector berupa Adobe Illustrator, Adobe Photoshop. Pencetakan kemasan dilakukan di Bandung. Proses desain selalu dikomunikasikan dengan owber Fransmiki
Proses menandatangan kartu sertifikat oleh pembuat sekaligus owner Fransmiki. Memasukkan produk boneka etnik rancangan Fransmiki dalam kotak kemasan masing-masing yang sudah dihasilkan dalam kegiatan abdimas.
Rancangan kemasan final dengan 6 macam kotak untuk etnik Dayak (pria, wanita), etnik Minangkabau (pria, wanita), dan Palembang (pria, wanita). Kemasan sudah diserahterimakan pada pada masyarakat pemilik UMKM Fransmiki
Produk suvenir boneka etnis diletakkan di dalam kotak dengan dialasi dengan busa hitam dan diberikan ikatan sehingga posisi produk suvenir itu dibuat dalam keadaan stabil. Hasil dari kemasan produk suvenir ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan emosional traveler yang akan membeli produk suvenir ini.
Perkembangan teknologi khususnya di bidang informasi dan komunikasi telah berkembang sedemikian pesat, terutama pada bidang digital marketing. Hal ini menuntut setiap perusahaan untuk mengembangkan promosi di berbagai media yang sesuai dengan perkembangan jaman. Berbagai macam media promosi digital sangat dibutuhkan, untuk itu diperlukan suatu strategi marketing yang efektif dan efisien agar dapat menarik konsumen. Salah satu media digital yang mudah diakses pada saat ini adalah media video.
Media video merupakan media promosi yang sangat mudah diterima oleh masyarakat luas karena penyampaian pesannya yang lebih lugas dan komunikatif. Peran video sebagai media yang efektif juga dapat menyampaikan informasi secara visual dan verbal serta menjadi media yang mudah dikonsumsi semua kalangan pada platform digital (Mahadika & Soewito, 2021 : 91). Pesan dapat tervisualisasikan secara jelas dalam bentuk visual dan audio.
Batik Kamaku merupakan brand lokal yang bergerak di bidang fashion. Batik Kamaku beralamat di ?Jl. Muara Raya no. 5, Lingkar Selatan, Kota Bandung, Jawa Barat. Batik Kamaku didirikan oleh Ibu Ratri Werdiningsih pada tahun 2021. Terkait dengan permasalahan yang ada di masyarakat sasar, maka rencananya bentuk solusi yang akan ditawarkan adalah berbentuk hibah video profil sebagai strategi membangun digital marketing Batik.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berlangsung dalam tiga tahapan proses, yaitu: pra produksi, produksi dan paska produksi. Agar semua proses berjalan lancar maka ketiga tahapan tersebut harus direncanakan secara matang sehingga memudahkan semua pihak yang terlibat, dalam hal ini pihak Batik Kamaku sebagai masyarakat sasar. Pada tahapan pertama kegiatan dimulai awal Agustus. Seluruh tim pengabdian kepada masyarakat melakukan survey dan riset terkait objek sasar yang akan diimplementasikan ke dalam naskah video profil. Lalu selanjutnya survey lapangan untuk mengetahui dan memetakan kebutuhan-kebutuhan tempat dan setting ketika produksi (syuting). Selanjutnya masuk ke tahapan produksi yang dilaksanakan pada hari Kamis, 22 Agustus seluruh tim terlibat dalam proses produksi (syuting). Proses terakhir yaitu pelaksanaan post produksi yaitu seluruh hasil syuting direview dan dilihat ulang untuk nantinya dipilih adegan-adegan terbaik untuk dimasukan ke tahapan editing. Berikut link video profil Batik Kamaku yang sudah selesai dikerjakan oleh tim pelaksana pengabdian kepada masyarakat.
Tim Abdimas : Ketua : ADYA MULYA PRAJANA
Anggota : BIJAKSANA PRABAWA ARIA AR RAZI
Mahasiswa: MUHAMMAD AFIF FAHRIZA FARHAN RIZKY PRATAMA DHIWA ADAM RISYDA ARRAZZAQ
DONANG QR yang berasal dari inovasi berupa penggabungan Dodol dengan Jenang ini merupakan ide dari Qonita Riyanti dan menjadi sebuah produk terbaru yang unik dibanding pesaingnya. Donang QR merupakan UMKM yang memproduksi produknya secara kecil-kecilan di GBA Blok P13 no 11 Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat. Usaha ini membuat sebuah inovasi berupa penggabungan Dodol dan Jenang yang selama ini sulit dibedakan oleh penikmat makanan tradisional. Qonita Menginformasikan bahwa awalnya beliau hanya menyukai makanan manis tradisional, setelahnya hal itu membuat Qonita berkeinginan membuat Dodol dan Jenang buatannya sendiri.
Kendala yang dihadapi oleh usaha Donang QR adalah belum adanya kemasan yang menarik yang digunakan oleh usaha Donang QR sehingga produk yang dipasarkan tidak menarik konsumen.Kendala yang menjadi batasan bagi Donang QR untuk mempromosikan produknya ini menjadi alasan bagi tim PKM dalam melakukan Perancangan Desain Kemasan Produk UMKM Donang QR dalam meningkatkan penjualannya. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan dengan cara menggali informasi mengenai latar belakang dari usaha Donang QR yang dikelola oleh Qonita Riyanti sekaligus owner dari usaha UMKM ini.
Program Pengabdian Masyarakat ini di laksanakan dalam bentuk hibah berupa redesain kemasan dengan menggunakan prinsip DKV dan Element of Visual Branding yang di aplikasikan pada produk Donang QR. Kegiatan ini bertujuan membantu Donang QR dalam merancang kembali kemasan produknya sehingga dapat meningkatkan Brand Awareness. Desain yang sesuai dengan latar belakang Donang QR ini diharapkan dapat membantu konsumen dalam mengenali produk yang dihasilkan oleh Donang QR dan bisa dibedakan dengan produk kompetitornya.
Dalam proses perancangan ulang kemasan ini, peancangan didasarkan pada beberapa teori yang relevan, diantaranya yaitu pengaplikasian teori Prinsip Desain Komunikasi Visual, yaitu sebuah disiplin ilmu yang mempelajari konsep komunikasi serta ungkapan kreatif melalui media dengan tujuan menyampaikan pesan dan gagasan secara visual dengan mengelola elemen-elemen grafis berupa bentuk, tatanan huruf, serta komposisi warna dan layout. Memposisikan gambar dalam tatanan tertentu yang membentuk ilustrasi dan bertujuan menarik perhatian dan memberikan kesan tertentu. Teori ini akan digunakan dalam merancang elemen visual kemasan.
Selain itu pada perancangan ulang kemasan ini pula didasarkan pada teori Element of Visual Branding serta teori Brand Awareness, yaitu bagaimana kemampuan konsumen dalam mengenai suatu produk atau merek sehingga komsumen dapat menyadari bahwa produk atau merek tersebut adalah yang terbaik dari merek lain sejenisnya (kompetitor). Dengan didasarkan pada kedua teori tersebut, diharapkan desain yang nantinya dirancang tidak hanya sebagai kemasan atau wadah bagi produk tetapi juga dapat digunakan sebagai media promosi dalam meningkatkan penjualan.
Foto ini menampilkan hasil akhir dari proses mendesain ulang kemasan produk UMKM Donang QR. Dalam gambar, terlihat produk Donang QR dengan rekomendasi desain baru yang lebih menarik, modern, dan informatif. Kemasan baru ini menonjolkan identitas produk dengan perpaduan warna yang mencolok namun elegan, disertai dengan logo UMKM yang lebih profesional. Informasi penting seperti komposisi, berat bersih, tanggal kedaluwarsa, dan kontak UMKM juga disertakan secara jelas dan rapi. Foto ini menunjukkan hasil kolaborasi tim dosen, mahasiswa, dan pemilik UMKM, yang bertujuan untuk meningkatkan nilai jual dan daya saing produk di pasar yang lebih luas.
Tim Pengabdian Masyarakat yang terdiri dari tiga orang dosen dan mahasiswa ini telah merancang dan mengaplikasikan prinsip DKV pada kemasan Donang QR. Solusi dalam bentuk desain kemasan yang dihasilkan diharapkan dapat membantu Donang QR dalam memasarkan produknya.
Fransmiki mulai berdiri pada bulan Mei 2019 di Surakarta Jawa Tengah. Setelah beberapa tahun berjalan akhirnya pada tahun 2021 mulai serius menekuni kerajinan tangan boneka yang bertemakan pakaian adat nusantara. Dan mulai memperkenalkan boneka pakaian adat dengan bergabung di komunitas-komunitas UMKM yang ada di Surakarta, serta mulai aktif mengikuti pameran yang ada. Fransmiki mempunyai misi untuk memperkenalkan keragaman budaya nusantara dan memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar. Selain itu produk yang dihasilkan dapat dijadikan alat penunjang edukasi keragaman budaya nusantara pada masyarakat umum. Produksi produk boneka etnik ini dilakukan secara manual (handmade) dengan detail dan kualitas yang baik. Walaupun dikerjakan secara manual produksi yang dihasilkan mencapai 250 pieces per bulan. Bahan yang digunakan menggunakan kain flannel berkualitas, benang sulam, kain-kain tradisional yang menjadi ciri khas tiap-tiap etnik yang ada di Nusantara.
Gambar 1 Proses produksi boneka etnik Nusantara
Produksi Fransmiki sudah menghasilkan produk boneka yang sangat beragam dan mewakili seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Keunggulan produk yang detail dan pengerjaan yang rapih menjadikan produk ini memiliki kualitas yang tinggi. Namun demikian kemasan dan brand yang ada masih belum merepresentasikan kualitas baik dari produk tersebut. Pemilihan material yang baik, komposisi desain dan penyajian informasi yang baik akan memberikan nilai lebih terhadap produk yang ditawarkan. Dari aspek desain produk-produk yang dihasilkan Fransmiki sudah cukup baik dan berkualitas, namun penyajian dalam bentuk kemasan masih jauh dari kualitas yang baik. Hubungan antara desain kemasan yang baik dan daya tarik konsumen untuk membeli produk suvenir adalah masalah-masalah yang mencakup berbagai elemen pemasaran, psikologi, dan perilaku konsumen. Desain kemasan yang efektif tidak hanya berfungsi sebagai pelindung produk, tetapi juga sebagai alat pemasaran penting yang dapat secara signifikan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Gambar 2. Produk boneka etnik Fransmiki dan kemasannya
Solusi yang ditawarkan pada masyarakat sasar UMKM Fransmiki adalah perancangan desain kemasan beserta pengelolaan informasi data produk. Untuk membatasi ruang lingkup jenis produk Fransmiki dengan beragam etnik, solusi yang akan diberikan dilakukan pada produk dengan kategori etnik Bali. Hasil rancangan kemasan ini diharapkan dapat meningkatkan minat beli target konsumen dan sekaligus memberikan edukasi keragaman etnik Nusantara yang ada di Indonesia
Hasil rancangan kemasan menggunakan kemasan karton yang dicetak di setiap sisinya.Di bagian depan terdapat ilustrasi boneka yang sesuai dengan bentuk asli dari suvenir boneka. Di atas ilustrasi terdapat nama dari pakaian adat Bali yaitu Payas Agung dan di bawah tertulis etnis Bali. Bagian sisi kiri kotak terdapat tulisan Hikayat Nusantara yang brand baru dari Fransmiki untuk lini produk-produk suvenir boneka etnis. Di bagian sisi kanan terdapat deskripsi keterangan terkait Hikayat Nusantara dengan logo Hikayat Nusantara. Di bagian belakang kotak terdapat deskripsi informasi singkat Payas Agung dan informasi spesifikasi dari bahan yang digunakan suvenir produk boneka etnik ini. Ada dua versi yaitu pakaian adat wanita dan pakaian adat wanita.
Gambar 3. Rancangan desain permukaan pada kemasan produk
Dimensi kotak lebar 8 cm, panjang 18 cm dengan tinggi 4 cm. Kotak dilengkapi dengan magnet di bagian sisi kanannya. Cetakan kemasan dibuat tanpa cetak glossy. Kotak disajikan secara tertutup dan mudah bagi orang untuk membuka/menutup kotak karena kekuatannya magnetnya cukup ringan sehingga mudah untuk dilakukan aktivitas itu. Desain kemasan ini dilengkapi dengan kartu sertifikat yang berisi bentuk kertas tebal dengan ujung kertas rounded untuk menambah eksklusifitas. Tampilan visauakl kartu itu sama dengan visual kemasannya dengan ilustrasi, nama baju adat dan nama etnis ilustrasi itu. Di belakang kartu tersebut terdapat keterangan nama baju adat, etnis, keterangan peta lokasi tempat etnis itu berasal dan di bagian bawah terdapat logo Hikayat Nusantara. Di bagian atas terdapat stiker emboss warna emas berupa identitas Hikayat Nusantara untuk memberikan bahwa produk suvenir ini resmi produk dari Hikayat Nusantara. Di bagian kanan atas terdapat bagian tanda tangan artis pembuatnya dan di bagian tengah terdapat production date yang nantinya akan distempel dengan keterangan tanggal produksi produk suvenir itu.
Gambar 4. Produk boneka etnik Hikayat Nusantara dan kemasannya
Selain kartu sertifikat, kemasan ini juga dilengkapi dengan informasi yang terkait dengan produk suvenir boneka etnis. Isi konten terdiri dari judul nama dari pakaian etnis dan logo Hikayat Nusantara. Halaman dua berisi lokasi tempat etnis itu berasal yaitu suku Bali. Halaman ketiga berisi peta lokasi dan keterangan informasi yang berhubungan dengan Bali. Halaman keempat berisi informasi terkait pakaian adat yang produk suvenir itu dan halaman terakhir infografis terkait nama dan struktur pakaian adat dari Payas Agung ini.
Kartu informasi dan kartu sertifikat akan dimasukkan di bagian dalam kemasan itu. Di sisi sebelah dalam ditampilkan slot untuk penempatan kartu tersebut. Produk suvenir boneka etnis diletakkan di dalam kotak dengan dialasi dengan busa hitam dan diberikan ikatan sehingga posisi produk suvenir itu dibuat dalam keadaan stabil. Hasil dari kemasan produk suvenir ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan emosional traveler yang akan membeli produk suvenir ini.
Tim Abdimas: Dr. ANDREAS RIO ADRIYANTO S.E., M.Eng. RIZKI YANTAMI ARUMSARI, S.Ds., MM.
Sabtu, 28 Desember 2024, menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Kampung Gamis, Desa Karamat Mulya, dengan diselenggarakannya Pelatihan Teknik Storytelling. Program pengabdian kepada masyarakat yang dipimpin oleh Anggar Erdhina Adi, S.Sn., M.Ds., dengan anggota Pebriyanto dan Satria Budiana Tresna, ini berlangsung selama satu hari penuh di Aula Kantor Kepala Desa. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari perangkat desa, termasuk Kepala Desa Karamat Mulya, Asep Sholehudi, S.H.Ag., dan Sekretaris Desa, Atep, yang turut hadir untuk membuka acara. Pelatihan yang diselenggarakan di Aula Kantor Desa Karamat Mulya, Kabupaten Soreang.
Pelatihan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB ini dirancang untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang konsep dan teknik storytelling, mulai dari teori dasar hingga implementasi praktis. Dalam workshop ini, peserta mengikuti lima sesi utama yang dirancang secara sistematis untuk memastikan pemahaman dan penerapan yang maksimal.
Implementasi Kegiatan Abdimas di Aula Kantor Desa Karamat Mulya
Workshop dimulai dengan sesi Pengenalan Konsep Dasar Storytelling, yang menjadi landasan penting bagi peserta. Dalam sesi ini, peserta diajarkan elemen-elemen utama storytelling seperti struktur narasi (awal, tengah, akhir), pengembangan karakter (protagonis dan antagonis), penentuan tema, pengelolaan konflik, dan penyusunan resolusi. Untuk mempermudah pemahaman, peserta diperlihatkan contoh-contoh video storytelling yang sukses sebagai referensi nyata. Sesi berikutnya, Pelatihan Teknik Produksi Video, berfokus pada teori dasar pengambilan gambar. Peserta dikenalkan pada jenis-jenis shot seperti close-up, medium shot, dan long shot, serta teknik pergerakan kamera seperti tilt, pan, dan zoom, dengan penekanan pada pentingnya pencahayaan untuk mendukung narasi. Peserta juga diajak mempraktikkan
Workshop dimulai dengan sesi Pengenalan Konsep Dasar Storytelling, yang menjadi landasan penting bagi peserta. Dalam sesi ini, peserta diajarkan elemen-elemen utama storytelling seperti struktur narasi (awal, tengah, akhir), pengembangan karakter (protagonis dan antagonis), penentuan tema, pengelolaan konflik, dan penyusunan resolusi. Untuk mempermudah pemahaman, peserta diperlihatkan contoh-contoh video storytelling yang sukses sebagai referensi nyata. Sesi berikutnya, Pelatihan Teknik Produksi Video, berfokus pada teori dasar pengambilan gambar. Peserta dikenalkan pada jenis-jenis shot seperti close-up, medium shot, dan long shot, serta teknik pergerakan kamera seperti tilt, pan, dan zoom, dengan penekanan pada pentingnya pencahayaan untuk mendukung narasi. Peserta juga diajak mempraktikkan teknik ini menggunakan perangkat sederhana, seperti smartphone, agar dapat langsung mengaplikasikan materi yang dipelajari. Pada sesi ketiga, Praktik Editing Video dengan Aplikasi CapCut, peserta diajarkan cara memotong klip, menambahkan transisi, teks, musik latar, hingga efek visual, memberikan pengalaman konkret dalam mengolah video dari tahap awal hingga siap ditayangkan. Sesi keempat, Implementasi Teknik Storytelling dalam Video, menantang peserta untuk mengintegrasikan elemen-elemen storytelling ke dalam karya video yang mereka buat, dengan fokus pada tema tradisi lokal, aktivitas sehari-hari, atau isu sosial. Workshop ini ditutup dengan sesi Presentasi dan Evaluasi Karya, di mana peserta mempresentasikan hasil karya mereka dan menerima umpan balik dari pemateri maupun peserta lainnya. Sesi ini menjadi ajang pembelajaran kolektif yang memberikan wawasan untuk meningkatkan kualitas karya di masa depan.
Kombinasi dari teori, praktik, dan evaluasi yang terintegrasi menjadikan pelatihan ini sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan masyarakat Kampung Gamis dalam storytelling, baik untuk kebutuhan pribadi maupun profesional. Untuk memberikan motivasi, dua karya terbaik dipilih berdasarkan kreativitas, teknik, dan kekuatan cerita, dengan hadiah berupa souvenir. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis masyarakat Kampung Gamis, tetapi juga memperkenalkan mereka pada potensi besar yang dapat dicapai melalui storytelling di era digital. Dengan kemampuan memproduksi video berkualitas, masyarakat kini memiliki alat untuk mempromosikan budaya dan potensi lokal ke tingkat nasional bahkan internasional.
Hasil dari Kegiatan Abdimas Telkom University di Desa Karamat Mulya.
Kegiatan pelatihan ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat Kampung Gamis, terutama dalam penguatan identitas lokal, pemberdayaan digital, dan pengembangan ekonomi kreatif. Melalui video storytelling, masyarakat dapat menampilkan dan merayakan tradisi serta budaya lokal mereka kepada audiens yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional, sehingga memperkuat kebanggaan dan kesadaran akan kekayaan warisan budaya mereka.
Selain itu, pelatihan ini memberdayakan peserta untuk menjadi agen perubahan yang mahir memanfaatkan teknologi digital sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan positif, menjadikan teknologi bukan sekadar alat, tetapi juga sarana strategis untuk komunikasi yang efektif. Dengan keterampilan baru yang diperoleh, peluang dalam sektor ekonomi kreatif pun terbuka lebar, seperti promosi pariwisata lokal, kewirausahaan berbasis konten digital, dan pengembangan jaringan pemasaran melalui platform digital, yang secara keseluruhan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Menurut Ketua Pelaksana, Anggar Erdhina Adi, "Pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesadaran naratif yang mendalam, sehingga masyarakat dapat menghadapi tantangan modern tanpa melupakan akar budaya mereka." Kepala Desa Karamat Mulya, Asep Sholehudi, S.H.Ag., juga menambahkan, “Kami sangat mendukung program ini karena mampu memberdayakan masyarakat dan mempromosikan potensi desa di era digital. Kolaborasi seperti ini penting untuk memajukan desa secara berkelanjutan.” Dengan semangat kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah desa, pelatihan ini menjadi langkah awal yang strategis dalam memberdayakan masyarakat Kampung Gamis untuk terus berkembang di era modern.
Perancangan Model Produksi Video Storytelling Bagi Masyarakat Kampung Gamis Desa Karamat Mulya
Lingga Agung (NIP: 20870001)
Muchammad Zaenal Al Ansory (NIP: 23880003)
Nabila Alifah Putri (NIM: 1601213318)
Ahmad Yusuf Kautsar Ilmi (NIM: 1601223132)
Rafiurrizki (NIM: 1601223241)
Desa Karamat Mulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung – Kampung Gamis, sebuah desa dengan sejarah panjang dan kekayaan tradisi, kini menghadapi tantangan dalam mempertahankan warisan budayanya di tengah arus globalisasi. Sebagai salah satu desa yang menjadi simbol kearifan lokal, Kampung Gamis dikenal dengan cerita rakyat, adat istiadat, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di era digital, tradisi ini mulai terpinggirkan oleh budaya global yang mendominasi ruang publik. Menjawab tantangan ini, sebuah inisiatif pelatihan storytelling dan produksi video storytelling dirancang untuk memberdayakan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengemas cerita-cerita lokal menjadi narasi visual yang menarik dan relevan.
Gambar 1. Pembukaan Pelatihan
Gambar 2.Penyampaian Materi
Melestarikan Warisan melalui Narasi Visual
Nama Kampung Gamis sendiri terinspirasi dari kain gamis, yang dalam sejarahnya menjadi simbol kehormatan dan identitas lokal. Kain ini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari tetapi juga menjadi medium bercerita tentang nilai-nilai luhur masyarakat Kampung Gamis. Sayangnya, cerita-cerita ini mulai dilupakan, terutama di kalangan generasi muda yang lebih terpapar pada budaya global melalui media digital. Pelatihan storytelling hadir sebagai solusi untuk menghidupkan kembali cerita-cerita ini dalam format yang dapat diterima oleh generasi masa kini.
Pelatihan ini dirancang dengan pendekatan sistematis yang dimulai dari pengenalan elemen dasar storytelling. Peserta diajarkan bagaimana membangun struktur cerita yang menarik, mulai dari pendahuluan, konflik, hingga resolusi. Selain itu, elemen-elemen lain seperti pengembangan karakter, tema, dan dialog juga menjadi fokus pelatihan. Dengan bimbingan fasilitator, peserta dilatih untuk mengidentifikasi cerita-cerita lokal yang bernilai historis dan mengemasnya menjadi narasi visual yang memukau.
Produksi Video: Media Modern untuk Tradisi Klasik
Selain memahami teknik storytelling, peserta dilatih dalam produksi video menggunakan alat sederhana seperti smartphone. Dengan aplikasi editing seperti CapCut, peserta belajar teknik pengambilan gambar, pencahayaan, pengeditan, hingga penyusunan klip video. Pelatihan ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta untuk menghasilkan video storytelling yang dapat dipromosikan melalui platform digital.
Praktik langsung menjadi salah satu sesi paling menarik dalam pelatihan ini. Peserta bekerja dalam kelompok untuk memproduksi video berbasis cerita lokal. Proses ini dimulai dari brainstorming ide, penyusunan skenario, pengambilan gambar, hingga editing. Dengan dukungan fasilitator, peserta berhasil menghasilkan karya yang tidak hanya estetis tetapi juga bermakna, mencerminkan tradisi dan budaya Kampung Gamis.
Menghubungkan Tradisi dan Teknologi
Pelatihan ini menekankan pentingnya memadukan tradisi dengan teknologi modern. Video yang dihasilkan menjadi sarana efektif untuk mempromosikan potensi budaya dan tradisi lokal kepada khalayak luas. Melalui platform digital seperti YouTube, Instagram, dan Facebook, cerita-cerita Kampung Gamis kini dapat diakses oleh generasi muda, baik di dalam maupun luar negeri. Teknologi tidak lagi menjadi ancaman bagi tradisi, melainkan jembatan yang menghubungkan budaya lokal dengan dunia global.
Dampak Positif bagi Masyarakat
Program ini membawa dampak yang signifikan bagi masyarakat Kampung Gamis. Generasi muda yang sebelumnya hanya menjadi konsumen budaya global kini bertransformasi menjadi agen perubahan digital. Mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk mendokumentasikan, melestarikan, dan mempromosikan budaya lokal. Selain itu, keterampilan baru ini membuka peluang ekonomi kreatif, seperti pembuatan konten pariwisata dan pengembangan usaha berbasis budaya.
"Melalui pelatihan ini, kami belajar cara baru untuk menjaga tradisi kami tetap hidup. Sekarang, kami bisa menggunakan teknologi untuk berbagi cerita dengan cara yang lebih menarik dan modern," ujar salah satu peserta pelatihan dengan penuh semangat.
Gambar 3. Foto bersama peserta Pelatihan
Gambar 4. Salah satu peserta sedang mempraktikan materi
Menuju Pemberdayaan yang Berkelanjutan
Program ini sejalan dengan visi pemerintah dalam mendorong digitalisasi desa dan pemberdayaan masyarakat lokal. Pelatihan ini bukan hanya proyek sesaat, melainkan awal dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguasaan teknologi. Dengan kolaborasi antara masyarakat, perangkat desa, dan fasilitator, Kampung Gamis menunjukkan bahwa tradisi dan teknologi dapat berjalan seiring.Di tengah arus globalisasi, Kampung Gamis membuktikan bahwa identitas lokal dapat tetap relevan dan berdaya saing. Melalui pelatihan storytelling dan produksi video, masyarakat Kampung Gamis tidak hanya mampu melestarikan warisan budaya mereka tetapi juga menciptakan peluang baru untuk masa depan yang lebih cerah. Program ini menjadi bukti nyata bahwa dengan kreativitas dan kolaborasi, tradisi dapat hidup berdampingan dengan modernitas.